Masakan Betawi Viral di Media Sosial, Ini Kata Para Ahli
Masakan Betawi Viral di Media Sosial, Ini Kata Para Ahli
Kerak telor, soto Betawi, dan gabus pucung tiba-tiba ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial sepanjang 2026 ini. Bukan sekadar konten kuliner biasa — masakan Betawi mendadak jadi topik trending setelah sejumlah kreator konten food vlogger memperkenalkannya ke generasi muda yang sebelumnya tidak terlalu familier. Fenomena ini menarik perhatian para peneliti budaya dan pakar kuliner nusantara.
Tidak sedikit yang terkejut melihat lonjakan pencarian terkait resep dan restoran masakan khas Jakarta ini. Data dari beberapa platform pencarian menunjukkan peningkatan signifikan sejak awal tahun, terutama setelah beberapa akun dengan jutaan pengikut memposting ulasan jujur soal cita rasa otentik kuliner Betawi. Warung-warung kecil di kawasan Condet, Setu Babakan, dan Kemayoran pun mendadak diserbu pengunjung baru.
Nah, apa sebenarnya yang membuat masakan ini tiba-tiba begitu viral? Para ahli punya jawabannya — dan jawabannya lebih dalam dari sekadar tren media sosial.
Masakan Betawi dan Daya Tarik Otentisitas yang Jarang Ditemukan
Warisan Rasa yang Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern
Pakar kuliner nusantara Dr. Ratna Kusumawati dari Universitas Indonesia menyebut fenomena ini sebagai “kebangkitan rasa lokal.” Menurutnya, generasi muda saat ini justru mencari sesuatu yang terasa nyata dan punya cerita panjang di baliknya. Masakan Betawi menawarkan perpaduan unik antara pengaruh Melayu, Arab, Tionghoa, dan Belanda yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Soto Betawi dengan kuah santan kaya rempah misalnya, bukan sekadar sup daging biasa. Setiap mangkuk menyimpan lapisan sejarah perdagangan dan migrasi yang berlangsung ratusan tahun di kawasan Batavia. Justru kedalaman cerita itulah yang kini dikemas ulang oleh para kreator konten dengan cara yang mudah dicerna.
Kreator Konten Jadi Jembatan Budaya Kuliner
Menariknya, banyak video viral soal kuliner Betawi justru dibuat oleh anak muda yang bukan asli Betawi. Mereka mendokumentasikan pengalaman pertama mencicipi gabus pucung atau nasi uduk Betawi dengan reaksi autentik yang terasa jujur. Pendekatan inilah yang membuat kontennya lebih mudah tersebar secara organik.
Menurut pengamat media sosial Fadhli Rahmanto, jenis konten “pertama kali mencoba” memiliki engagement rate yang jauh lebih tinggi dibanding konten promosi biasa. Jadi wajar kalau kuliner Betawi otentik justru lebih cepat viral lewat mulut digital ketimbang kampanye promosi formal sekalipun.
Respons Para Ahli: Peluang Sekaligus Tantangan
Pelestarian Resep Asli Jadi Prioritas Mendesak
Tidak semua ahli merespons tren ini dengan senyum lebar. Sejarawan kuliner Betawi, Hasan Djunaedi, mengingatkan ada risiko di balik kepopuleran mendadak ini. Ketika permintaan melonjak, banyak penjual tergoda memodifikasi resep demi efisiensi produksi — mengganti kemiri dengan bahan murah, atau mempersingkat proses memasak yang seharusnya panjang.
“Resep masakan Betawi seperti semur jengkol atau laksa Betawi membutuhkan proses yang tidak bisa disingkat,” ujarnya dalam sebuah diskusi kuliner di Jakarta beberapa waktu lalu. Kehilangan proses berarti kehilangan rasa, dan kehilangan rasa berarti kehilangan identitas.
Peluang Ekonomi bagi Komunitas Betawi Asli
Di sisi lain, tren ini membuka peluang ekonomi nyata bagi komunitas Betawi. Kawasan budaya Setu Babakan yang sebelumnya sepi kini mulai ramai lagi. Beberapa pelaku usaha kuliner asli Betawi melaporkan peningkatan omzet hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Pemerintah DKI Jakarta pun mulai bergerak dengan program pendampingan UMKM kuliner tradisional Betawi agar bisa mempertahankan kualitas di tengah lonjakan permintaan. Langkah ini disambut positif oleh para ahli sebagai cara menjaga keseimbangan antara popularitas dan autentisitas.
Kesimpulan
Viralnya masakan Betawi di media sosial bukan sekadar tren sesaat yang akan hilang dalam hitungan minggu. Ada lapisan budaya, sejarah, dan identitas yang ikut terbawa setiap kali konten kuliner ini tersebar di berbagai platform. Para ahli sepakat bahwa momentum ini harus dimanfaatkan dengan bijak — bukan hanya untuk kepentingan bisnis, melainkan juga sebagai sarana pelestarian warisan kuliner Jakarta yang sesungguhnya.
Faktanya, masakan Betawi punya potensi besar untuk menjadi representasi kuliner ibu kota di kancah nasional bahkan internasional. Asalkan autentisitasnya dijaga, kepopuleran di media sosial bisa menjadi pintu masuk yang kuat untuk memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada generasi yang lebih luas.
FAQ
Apa saja masakan Betawi yang paling viral di media sosial 2026?
Beberapa masakan Betawi yang paling banyak dibahas antara lain soto Betawi, kerak telor, gabus pucung, laksa Betawi, dan semur jengkol. Konten video yang menampilkan proses memasak dan reaksi pertama kali mencicipi menjadi format yang paling banyak ditonton.
Mengapa masakan Betawi mendadak populer di kalangan anak muda?
Popularitas ini dipicu oleh kreator konten yang mengemas kuliner Betawi dengan pendekatan autentik dan relatable. Generasi muda yang jenuh dengan tren makanan impor mulai mencari cita rasa lokal yang punya cerita dan kedalaman rasa berbeda.
Bagaimana cara menemukan warung masakan Betawi otentik di Jakarta?
Kawasan Setu Babakan di Jagakarsa dan area Condet di Jakarta Timur dikenal sebagai pusat kuliner Betawi yang masih mempertahankan resep tradisional. Selain itu, ulasan dari food blogger lokal di media sosial bisa menjadi panduan yang cukup terpercaya untuk menemukan tempat makan Betawi asli.



